Rabu, 06 April 2011

Nilai-nilai Berita

Apa yang pantas dijadikan berita; apa yang bukan?
Belum ada ahli yang berhasil menyusun definisi yang paling memuaskan mengenai nilai berita.

Kriteria-kriteria berikut biasanya diperoleh buku-buku jurnalistik:

1. Magnitude
Seberapa luas pengaruh suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang kenaikan harga BBM lebih luas pengaruhnya terhadap SELURUH masyarakat Indonesia ketimbang berita tentang gempa bumi di Jawa Tengah.

2. Significance 
Seberapa penting arti suatu peristiwa bagi khalayak
Contoh: Berita tentang wabah SARS lebih penting bagi khalayak; ketimbang berita tentang kenaikan harga BBM.

3. Actuality 
Yaitu tingkat aktualitas suatu peristiwa.
Berita tentang kampanye calon presiden sangat menarik jika dibaca pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2004. Setelah itu, berita seperti ini akan menjadi sangat basi.

4. Proximity 
Yaitu kedekatan peristiwa terhadap khalayak.
Contoh: Bagi warga Jawa Barat, berita tentang gempa bumi di Bandung lebih menarik ketimbang berita tentang gempa bumi di Surabaya.

5. Prominence 
Yaitu akrabnya peristiwa dengan khalayak.
Contoh: Berita-berita tentang Indonesian Idol lebih akrab bagi remaja Indonesia ketimbang berita-berita tentang Piala Thomas.

6. Kejelasan (clarity) tentang kejadiannya

7. Kejutan (surprise) 

8. Dampak (impact) 
Berapa banyak manusia terkena dampaknya, seberapa luas, dan untuk berapa lama?

9. Konflik personal.

10. Human Interest 
Yaitu kemampuan suatu peristiwa untuk menyentuh perasaan kemanusiaan khalayak.
Contoh: Berita tentang nasib TKI Indonesia yang dianiaya di Malaysia, diminati khalayak, karena berita ini mengandung nilai human interesttinggi.


Yang mengandung unsur human interest:

Ketegangan (Suspense) – Apa keputusan yang akan dijatuhkan dalam pengadilan kasus pembunuhan sadis itu?
Keanehan/Ketidaklaziman (Unusualness) –Seorang wanita melahirkan bayi kembar lima.
Minat pribadi (Personal Interest) – Gaun sekarang ada yang tidak perlu disetrika sehabis dicuci.
Konflik (Conflict) – Umumnya manusia memberi perhatian pada konflik: perang, kriminalitas atau olahraga atau persaingan dalam bidang apa pun karena di dalamnya terkandung unsur konflik.
Simpati (Sympathy) –Seorang bocahkehilangan ketiga kakak dan kedua orang tuanya pada musibah Tsunami di Aceh.
Kemajuan (Progress) –Suatu vaksin pencegah AIDS tengah di kembangan di Prancis.
Seks (Sex) – Seorang aktor menggugat cerai istrinya yang juga artis karena selingkuh dengan ketua salah satu partai.
Binatang (Animals) –Seekor anjing menyelamatkan majikannya yang buta dalam suatu peristiwa kebakaran.
Humor (Humor) – Seorang politisi berpidato satu jam di mimbar tanpa menyadari mikrofonnya itu mati.Suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria tadi.

Namun, semakin banyak unsur tersebut yang melekat dalam suatu peristiwa maka nilai beritanya semakin tinggi. Ketika seorang redaktur meminta wartawan untuk melaporkan hal yang menurut wartawan menarik, pasti sudah memiliki sensor tertentu untuk memilah mana yang menarik dan mana yang tidak.Masalahnya bagaimana membuat pembaca juga merasakan bahwa hal yang ingin kita sampaikan itu memang penting untuk dibagi kepada orang lain.

Jadi penting untuk memaparkan sesuatu itu dengan cara bercerita yang sedapat mungkin mengundang minat banyak orang, entah itu menjadi masalah kita semua, menjadi lucu atau menjadi mengharukan bagi kita semua. Hal ini biasanya sudah dimulai dari paragraf awal (lead) turun terus sampai ke tubuh tulisan dan ending. Untuk itu wartawan mesti tegas memilih angle sebelum menulis, sebetulnya apa yang hendak disampaikan?
Apa yang penting untuk diketahui dan dirasakan oleh pembaca?

Potong informasi, detil atau apapun yang tidak mendukung pilihan awal kita, daripada pembaca di akhir tulisan akan kembali bingung sebetulnya apa yang hendak disampaikan.

0 komentar: