Mengenal Fikom Jurnalistik

Lalu apa itu Jurnalistik? Pengertian Jurnalistik atau Jurnalisme adalah suatu bidang kajian dari ilmu komunikasi itu sendiri, jurnalistik berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti surat kabar.

Sarjana Muda Mati Gaya?

Hal apa yang membuat banyak sarjana muda mati gaya? Mungkin perencanaan yang kurang matang membuat mereka kurang sadar dengan gelar kesarjanaannya.

Bagaimana Kata-Kata Merubah Dunia?

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan merangkai kata menjadi kalimat dan mencoba sesuatu yang dapat merubah dunia, buta huruf adalah salah satu contoh nyata.

Revolutions Design Indonesia

RDSGN (di baca R Design) adalah sebuah tim untuk pembuatan desain grafis di Bandung. Setelah masing-masing dari kami mencari pengalaman dengan beberapa perusahaan dan kesempatan bertemu dengan banyak kategori client membuat kami sadar akan sebuah perbedaan selera yang tidak bisa dirubah.

RDSGN | REVOLUTIONS DESIGN

R Design adalah singkatan dari Revolution Design (revolusi desain), karena banyaknya nama R Design dengan latar belakang yang berbeda antara yang satu dan yang lain membuat kami memberikan sedikit perbedaan dalam segi penulisan (RDSGN) yang berfungsi sebagai pengingat nantinya.

Tampilkan postingan dengan label Penulisan Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulisan Feature. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

Sambal Bu Imas dan Keripik Ema Icih

Sambal Bu Imas Tetap jagonya dibanding Keripik Ema Icih 

Kuliner Lada ti Bandung
Sedikit menelusuri kuliner di kota Bandung, ibukota jawa barat ini punya segudang kuliner yang sangat luar biasa. Tidak heran banyak wisatawan maupun penduduk luar bandung yang sengaja mampir hanya untuk menikmati nikmatnya kuliner di kota ini. Tepat di depan ITC Kebon Kelapa Bandung, ada sebuah warung makan yang konon memiliki menu andalan sambal yang sangat dasyat. Kali kami ingin mencoba mencicipi sambal di warung Bu Imas.

Tak lengkap rasanya bila anda berkunjung ke bandung tanpa mengunjungi warung Bu Imas. Menu hidangan yang disajikan disini adalah masakan sunda yang dihidangkan dengan lalab segar. Harganya pun relatif murah bagi saku anda. Hanya dengan merogoh kocek Rp. 15.000 anda dapat menikmati ayam goreng, tahu, tempe dan lalab ditambah dengan sambal yang sangat dasyat dan akan membuat lidah para penikmatnya bergoyang.

Beralih sejenak dari sambal Bu Imas, ada lagi kuliner yang membuat lidah anda akan semakin bergoyang. Keripik Ema Icih, keripik pedas atau keripik setan (kebanyakan orang menyebutnya) akan membuat mata anda berkaca-kaca. Nama Ema Icih sudah tidak asing lagi ditelinga kita, keripik yang dibuat memiliki tingkat kepedasan yang berbeda tergantung dari selera konsumen.

Bu Imas dan Ema Icih seakan menjadi trademark bagi hot kuliner di bandung. Tidak sedikit orang yang banyak meniru hidangan sambal pedas dari Bu Imas dan Keripik dari Ema Icih. Apabila dibandingkan, keduanya cukup memiliki ciri khas yang berbeda. Dari banyaknya penggemar makanan pedas, masyarakat lebih memilih sambal Bu Imas ketimbang dengan Ema Icih, hal ini deisebabkan karena rasa dari sambal Bu Imas yang tidak hanya mengelurkan rasa pedas saja, namun sambalnya yang gurih dan aromanya yang wangi membangkitan selera. Berbeda dengan keripik Ema Icih yang hanya mengeluarkan rasa pedas yang begitu pekat. Namun keduanya akan berdampak sama bagi para konsumen, yakni keluar-masuk toilet.



Rabu, 06 April 2011

Feature News

MENCARI ENYI DALAM TIMBUNAN LUMPUR
Kamis, 25 Februari 2010 | 03:28 WIB

Pandangan Umar (54), warga Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyapu deretan nama yang dipasang di masjid RW 18.

Ke-43 nama itu merupakan daftar nama korban longsor yang terjadi pada hari Selasa (23/2). Ia menemukan nama istrinya, Enyi (50), dalam daftar itu di urutan ke-11 dan belum dilingkari. ”Itu berarti jenazah istri saya belum ditemukan dalam timbunan longsor,” ucap Umar lirih dan parau.

Papan nama yang dipasang di masjid Kampung Cimeri, Desa Tenjolaya, menjadi rujukan warga yang mencari tahu nasib sanak saudara mereka. Di dalam masjid, jenazah yang sudah ditemukan disemayamkan sementara untuk kemudian dibawa keluar menggunakan ambulans.

Umar tampak terpukul sekali oleh musibah longsor tersebut. Ia kehilangan belahan hidupnya dalam sekejap saat retakan di bukit ambruk dan menimbun 21 rumah yang dihuni pekerja Perkebunan Teh Dewata itu. Yang membuatnya lebih tertekan, ia menyaksikan sendiri saat-saat terakhir lumpur meluluhlantakkan perumahan pekerja, salah satunya adalah yang ditinggali istrinya.

Bapak enam anak ini pun mengisahkan, ia berada 50 meter dari lokasi saat longsor terjadi pada pukul 08.00. Disertai bunyi dentuman, dia melihat lereng bukit terkupas dan merosot jatuh mendekati permukiman kebun teh. Saat itu, longsoran belum mengenai permukiman warga.

Umar dan beberapa karyawan lain yang melihat hal ini segera berteriak memperingatkan warga yang ada di permukiman untuk segera menghindar. Dari kejauhan, ia melihat istrinya sempat keluar rumah, tetapi kemudian masuk kembali. ”Belum sampai 15 menit setelah longsoran pertama, terjadi longsoran yang lebih besar yang menimbun seluruh permukiman,” ujar Umar murung.

Tidak tanggung-tanggung, lumpur dengan ketebalan lebih dari tiga meter langsung menimbun permukiman itu hingga mencapai atap. Sebanyak 21 rumah warga, lima bangunan milik kantor perkebunan, dan satu masjid hancur. Lumpur juga memutuskan jaringan listrik ke Kampung Cimeri.

Namun, setidaknya Umar masih bisa bernapas lega. Anaknya paling bungsu, Novita Sri Rahayu (8), selamat dari longsor. Novita saat itu tengah bersekolah di lokasi yang berjauhan dengan permukiman penduduk sehingga terhindar dari maut.

Sayangnya, kebahagiaan yang sama tidak bisa dirasakan Administratur Perkebunan Teh Dewata, Irvansyah. Anaknya, Alfart (3), menjadi korban karena sedang berada di rumah bersama pengasuhnya, Ida (35). Keduanya hingga kini belum ditemukan.

Kesedihan juga dirasakan Anton Sutisna (39), Ketua RT 08 RW 18, Desa Tenjolaya. Lelaki yang sudah 27 tahun bekerja di Perkebunan Teh Dewata itu kehilangan dua anggota keluarganya, yakni keponakannya, Neni (26), dan ibunya, Mak Enah (60). Ia juga menyaksikan sendiri rumah ibunya tertimbun longsor. Saat itu, Anton baru saja hendak berangkat ke lokasi perkebunan.

Sejak Selasa malam, Anton mencari keponakan dan ibunya. Baru Rabu, sekitar pukul 10.00, Neni ditemukan. Kelegaan dan kesedihan mendalam terpancar dari wajah Anton.

Setelah bapaknya meninggal, Anton adalah kepala keluarga. Rabu siang itu juga, Anton mengantarkan jenazah Neni kepada orangtuanya. ”Bapak-ibunya sudah menunggu di Ciwidey. Neni mau dibawa ke Tasikmalaya,” katanya menahan tangis.

Setelah Neni, Anton masih harus mencari keberadaan ibunya, hidup atau mati. Meskipun kesempatan hidup semakin menipis karena sudah dua malam tertimbun, Anton tidak patah arang. ”Saya harus tetap menemukan emak…,” tuturnya.

Kompas menumpang ambulans yang mengantarkan jenazah Neni (26) menuju Ciwidey. Sepanjang perjalanan, ambulans yang ditumpangi beberapa kali dihentikan warga. ”Agus… ada Agus di sini? Tanya salah seorang warga yang tampak kebingungan menghentikan ambulans. ”Agus? Teu aya kang… ieu teh Neni (enggak ada kang, ini Neni).” Mengetahui jenazah itu bukan Agus, warga tersebut tampak kecewa.

Pemandangan indah 

Kampung Cimeri yang berpenduduk 1.000 jiwa itu berada di kaki Gunung Tilu dan berbatasan dengan Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Untuk mencapainya, harus menyusuri jalan berbatu sepanjang 32 kilometer selama tiga jam. Sesekali kita akan melintasi jalan bergelombang dan kubangan lumpur.

Namun, begitu memasuki daerah Perkebunan Teh Dewata, terlihat bahwa Kampung Cimeri memang memiliki pemandangan yang sangat indah. Kampung itu berada di sebuah cekungan yang menjadi dasar bukit-bukit berisi barisan tanaman teh yang mengelilinginya. Aliran sungai yang deras juga berhasil dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik untuk permukiman tersebut.

Hanya saja, longsor yang terjadi pada hari Selasa itu ternyata membuka kenyataan lain mengenai Kampung Cimeri. Permukiman itu berada tepat di daerah rawan bencana. Itu pun terbukti saat tebing gunung yang retak ambruk dan menimpa permukiman di bawahnya.

Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf menjelaskan, pihaknya hingga kini masih menyosialisasikan mengenai daerah rawan bencana kepada pemerintah kabupaten hingga desa. Alasannya memang kuat, semua wilayah Jawa Barat, terutama daerah selatan, rawan longsor karena berupa perbukitan.

Longsor di kawasan itu seolah menutup cerita manis keelokan Kampung Cimeri.(eld/rek)

- Contoh Straight News

Kamis, 24 Maret 2011

Apa itu Penulisan Feature?

Merasa kebingungan sebagai mahasiswa jurnalistik? 

Mungkin hanya saya dari banyak mahasiswa jurnalistik di mana pun mereka berada yang merasa kebingungan dengan jurusan yang saya ambil. Saya merasa sedikit kebingungan dengan Mata Kuliah Penulisan Feature, karena saya sebagai seorang mahasiswa jurnalistik tidak LULUS mata kuliah penulisan feature.

Apakah hal ini memalukan bagi anda? Mungkin tidak, karena anda tidak mengalaminya, Namun bagi saya hal ini sangatlah memalukan walaupun saya tidak lulus bukan karena saya bodoh ataupun kurang memahami penulisan feature, tapi itu disebabkan saya yang memang malas pada saat itu. Disebabkan oleh kekurangan materi tentang penulisan feature, maka saya belum membuat ataupun mencari bahan tentang itu, namun saya coba buat label terlebih dahulu untuk SEO. :D

Saya ini termasuk mahasiswa yang luar biasa dalam artian super malas. Namun perlahan hal itu bisa saya hilangkan, saya coba melakukan berbagai kegiatan positif diluar rumah untuk mendapatkan semangat dalam kuliah, hasil akhir saya mendapatkan perubahan yag cukup berarti dalam diri saya, lalu bagaimana dengan anda?

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !