Jumat, 14 Januari 2011

Di Bawah Lindungan Ka'bah

TUGAS PENULISAN ARTIKEL
DI BAWAH LINDUNGAN KAABAH

Pada hari kedelapan Zulhijjah perintah daripada syeikh kami menyuruh menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke `Arafah, kerana pada hari kesembilan akan wuquf (Berhenti sehari lamanya) di sana. Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat tersebut.

Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahwa dia dipengahruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua hari, kelihatan ia bermenung saja, bertambah daripada biasa, ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan, bahawa badannya terasa sakit-sakit. Tetapi oleh kerana pergi wuquf ke `Arafah menjadi rukun daripada pekerjaan haji, tak dapat tidak ia pun mesti ikut ke sana. Maka dipasanglah sakdup-sakdup di punggung unta yang beribu-ribu banyaknya. Bersedia hendak membawa orang haji ke `Arafah itu. Kira-kira pukul empat sore, jemaah-jemaah telah berangkat berduyun-duyun menuju ke `Arafah, jalan sempit dan penuh oleh manusia dan kenderaan berbagai-bagai, ada yang mengenderai keldai, kuda dan unta, tetapi yang paling banyak duduk dalam sakdup iaitu dua buah tandu yang dipasang kiri kanan punggung unta. Saya bersama dengan Hamid menumpang dalam satu sakdup.

Di `Arafah sangat benar panasnya, sehingga ketika berhenti di tempat itu sehari lamanya, kita ingat-ingat akan berwuquf kelak di padang Mahsyar. Setelah matahari terbenam kami kembali menuju ke Mina, berhenti sebentar di Muzdalifah memilih batu untuk melempar "Jumrah" di Mina itu kelak. Setelah berdiam di Mina pada hari yang ke sepuluh, ke sebelas, kedua belas, ketiga belas, bolehlah kembali ke Mekah mengerjakan tawaf besar dan Sai`, setelah itu bercukur, sehabis bercukur baharu disebut "haji".

Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih korban untuk fakir dan miskin.

Sekarang kembali diceritakan keadaan Hamid. Demamnya yang dibawa dari Mekah bertambah menjadi, lebih-lebih setelah mendapat hawa yang panas di `Arafah itu. Di sana banyak orang yang mati kerana kepanasan. Hamid tak mahu lagi makan, badannya sangat lelah, sehingga seketika berangkat ke Mina ia tiada sedarkan dirinya, demi melihat hal itu, jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya. Kalau-kalau di tempat itulah dia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami, lebih-lebih melihat mukanya yang sangat pucat dan badannya yang sangat lemah.

Setelah selesai penyembelihan besar itu, pada hari yang ke sebelas kami berangkat ke Mekah, yaitu mengerjakan rukun yang agak cepat, tidak menunggu sampai tiga hari. Sebelum mengerjakan tawaf besar itu, lebih dahulu kami singgah ke rumah kami. Kerana penyakit Hamid rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badwi upahan, yang biasanya menerima upah mengangkat orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas bangku itu, yang diberi hamparan daripada kulit dahan kurma berjalin, khadam syeikh datang terburu-buru menghantarkan sepucuk surat dari Sumatera, setelah kami buka, ternyata datangnya dari Rosnah. Muka Salleh menjadi pucat, jantung saya berdebar-debar membaca isinya yang tiada disangka-sangka, Zainab telah wafat, surat menyusul, Rosnah.

Setelah dibacanya dengan sikap yang sangat gugup Salleh menyimpan surat kawat itu ke dalam sakunya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu.

Tiba-tiba dari tempat tidurnya Hamid kedengaran berkata; "Surat apakah yang tuan-tuan terima? Apakah sebabnya tuan-tuan sembunyikan daripadaku? Adakah ia membawa duka atau khabar suka? Jika ia khabar suka, tidakkah patut saya diberi sedikit saja daripada kesukaan itu? Kalau khabar itu mengenai diri saya sendiri lebih baik tuan-tuan terangkan kepada saya lekas-lekas, tidaklah patut tuan-tuan sembunyikan lama-lama jangan dibiarkan saya di dalam sakit menanggung perasaan yang ragu-ragu."

"Tenangkanlah hatimu, sahabat! Kehendak Allah telah berlaku, ia telah memanggil orang yang dicintaiNya ke hadratNya."

" Oh, jadi Zainab telah dahulu daripadaku?" tanyanya pula.

"Ya, demikianlah, sahabat!"

Mendengar penjawapan itu kepalanya tertekun, ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua titik airmata yang panas.

Tidak beberapa saat kemudian, datanglah Badwi tersebut membawa tandu yang kami pesan, Hamid pun dipindahkanlah ke dalam dan diangkat dengan segera menuju Masjidil-Haram, saya dan Salleh mengiringkan di belakang menurut Badwi yang berjalan cepat itu. Setelah sampai di dalam masjid, dibawalah dia tawaf keliling Ka`bah tujuh kali. Ketika sampai yang ke tujuh kali diisyaratkannya kepada Badwi yang berdua itu menyuruh menghentikan tandunya di antara pintu Ka`bah dengan batu hitam, di tempat yang bernama Maltezam, tempat segala do'a yang makbul. Orang lain tawaf pula berdesak-desak. Dengan sikap sabar orang-orang Badwi mengangkat tandu ke dekat tempat yang tersebut. Hati saya sangat berdebar melihatkan keadaan itu, saya lihat muka Hamid, di sana sudah nampak terbayang tanda-tanda dari kematian. Sampai di sana dihulurkannya tangannya, dipegangnya kesoh kuat dengan tangannya yang telah kurus, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca do'a demikian bunyinya:

"Ya Rabbi, ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, di bawah lindungan Ka`bah, rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia.

Kepada siapa lagi yang saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan Engkau ya Tuhanku!

Tidak ada suatu tali pun tempat saya bergantung, lain daripada tali Engkau, tidak ada pintu yang akan saya tutup, lain daripada pintu Engkau.

Berilah kelapangan jalan buat saya, saya hendak pulang ke hasrat Engkau; saya menuruti orang-orang yang dahulu daripada saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya.

Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali….."


Setelah itu suaranya tidak kedengaran lagi; di mukanya terbayang suatu cahaya muka yang jernih dan damai, cahaya keredhaan daripada Ilahi.

Di bibirnya terbayang suatu senyuman dan sampailah waktunya lepaslah ia daripada tanggungan dunia yang amat berat ini, dengan keizinan Tuhannya, di bawah lindungan Kaabah!

Pada hari itu selesailah mayat sahabat yang dikasihi itu dimakamkan di perkuburan Ma`ala yang masyhur.


Tanggapan Saya : 

Pustaka Dini Buku ini sebuah karya kecil Hamka (dari segi saiz) akan tetapi tidak kecil jiwa di dalamnya. Pada saya ini bukan karya Hamka akan tetapi sekadar catatan. Setelah membaca, saya jadi ingin membaca karya-karya tulisan Bung Hamka yang lain. Novel ini merupakan kisah yang diceritakan semula. Kisah pengalaman hidup seorang pemuda yang bercerita kepada penulis. Seorang anak muda yang dibiaya oleh seorang hartawan hingga keperingkat universiti. Akhirnya jatuh cinta dengan anak hartawan tersebut. Namun takdir menentukan gadis yang selama ini terasa seperti darah daging sendiri, bukan jodohnya. Kisah cinta yang dilakarkan dalam novel ini mengingatkan saya kepada sebuah lagi karya Bung Hamka : Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Karya Bung Hamka lain yang sempat saya khatamkan ialah Kenang-Kenangan Hidup dan Dari Lembah Kehidupan. Menurut saya karya Bung Hamka kaya dengan filsafat.

Karya Hamza tidak hanya ini, dan saya coba menanggapi karya beliau yang berjudul “di bawah lindungan kaabah”. Ini adalah salah satu novel hamza yang berunsur religi, dimana ia menuliskan cerita tentang ibadah haji. Novel ini termasuk karya sastra lama, dilihat dari bentuk tulisan yang di tuangkan oleh beliau. Hamka pun menulis dengann bahasa yang mudah dicerna nmaun tetap sulit untuk di mengerti. Tak sedikkit banyak kata yang baku keluar dalam tulisannya. Agak sulit bagi saya mengartikan tulisannya, mungkin karena saya orang awam yang baru saja hendak membuat suatu karya.

Novel Lindungan Kaabah telah diadaptasi ke film dan mendapat sambutan yang hebat pada awal tahun lapan puluhan. Saya belum pernah menonton tayangan film tersebut. Sungguh bangga dan senang sekali apabila saya dapat melihat film ini.

Membaca tulisan orang lain atau tulisan sendiri adalah nikmat yang memberi kepuasan terhadap hasil karya yang diilhamkan. Marilah mulai menulis sesuatu yang boleh dijadikan simpanan masa depan agar generasi akan datang tahu apa yang berlaku dalam zaman kita. agar kita juga pembaca lain dapat mengambil iktibar dan manfaat dari pesan yang hendak kita sampaikan. Jangan dinanti-nanti, mulailah menulis dari sekarang. Bermula dengan membaca tulisan orang lain dan kemudian menghasilkan tulisan sendiri. Membaca tulisan sendiri dan menulis pula untuk dibaca oleh orang lain, begitulah imbalannya.

Ada untaian kata dari Hamka yang membuat saya terkagum, yaitu ; “Takut gagal adalah gagal sejati. Takut mati adalah mati sebelum mati. Hidup itu adalah gerak. Gerak itu ialah maju, berjuang dan naik dan jatuh dan naik lagi. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi esok. Oleh itu, tidak ada tempuh yang akan terbuang.”

- Dr. Hamka -

0 komentar:

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !