Kamis, 24 Maret 2011

Sifat Opini Publik


William Bauer mengungkapkanbahwa opini publik menurut sifatnya dapat diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu:

Opini publik statis : Opini ini dapat dilihat manifestasinya dalam bentuk kebiasaan, adat istiadat, tradisi atau norma-norma. Opini ini bersifat irasional sebagai suatu kesadaran kolektif yang banyak didapati di negara-negara agraris yang bersifat konservatif tradisional. 

Opini publik dinamis : Opini ini sifatnya lebih rasional dan terbentuk karena seni persuasi yang berupa kegiatan publisitas yang sistematis dan kejadian yang terjadi waktu itu.


Sifat-sifat opini publik sesuai dengan pendapat sosiolog dikemukakan oleh Bogardus, seperti (1) pendapat umum mempunyai kelemah juga, seperti sifat tidak jelas, tidak tepat dan dirumuskan dalam kodifikasi; (2) pendapat umum tidak “hidup” tidak merupakan suatu pendapat; dan (3) pendapat umum adalah sederhana dalam metodenya, didorong oleh emosi nafsu manusia.

Menurut Leonard Doob, opini publik itu sifatnya tetap latent (terpendam) baru memperlihatkan diri kalau terdapat konflik, kegelisahan atau frustasi. Pendapat terpendam (latent opinion) menunjukkan pada pengertian “sikap-sikap manusia” yang berhubungan dengan suatu isu. Sikap itu belum terkristalisasi dan mempengaruhi tingkah laku. Pikiran-pikiran individu yang dinyatakan disebut individual opinion dan akan menjadi public opinion ketika telah dinyatakan. Antara public opinion dan individual opinion memiliki hubungan erat, di mana orang menentukan sikapnya dan pendapatnya apabila dihadapkan pada persoalan serta membentuk opini publik. Mungkin salah satu pendapat telah tersebar, tetapi tidak dinyatakan maka terbentuklah internal public opinion dan setelah dinyatakan menjadi external public opinion. Perubahan tersebut terjadi karena kekuatan intensitas pendapat makin besar sehingga timbul kebutuhan untuk menyatakannya.

Kebutuhan menyebabkan tumbuhnya motivasi untuk memenuhinya. Maslowmelalui teori kebutuhan mengemukakan jika terpenuhinya kebutuhan pada satu tingkat, maka akan memunculkan kebutuhan yang lainnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow adalah (1) kebutuhan fisiologis (makan, pakaian, keturunan, udara); (2) keamanan dan keterjaminan: jaminan kesejahteraan, jaminan terlindungi terhadap serangan; (3) cinta dan kebersamaan: afeksi, kebersamaan dengan orang lain; (4) penghargaan: merasa diri berharga dan mampu; dan (5) aktualitas diri: rasa pemenuhan diri, control atas lingkungan dan nasib sendiri, dan kemampuan mencapai apa yang diharapkan. Sifat statis, dinamis, ataupun latent sebenarnya bergantung pada faktor-faktor perangsang dari luar walaupun pada dasarnya opini publik itu selalu mencari penyelesaian.

Menurut Leonard Doob, ada tiga kategori komunikator berdasarkan kedudukannya dalam masyarakat, yaitu

· Politikus sebagai komunikator politik 

Pertama, kewenangan politikus dalam berkomunikasi sebagai wakil suatu kelompok, pesannya mengajukan dan atau melindungi tujuan kepentingan politik atau memenuhi kepentingan kelompok. Kedua, politikus mempengaruhi orang lain, yakni bertindak dengan tujuan mempengaruhi orag lain dan mencegah perubahan opini agar keadaan-nya menguntungkan bagi semua pihak.

· Komunikator professional dalam politik 

Komunikator professional memainkan perannya baik dalam jaringan media massa maupun media khusus atau menghubungkan kantor-kantor pemerintahan dengan media.

· Aktivis atau komunikator paruh waktu 

Unsur dasar dalam jaringan komunikasi politik adalah aparat formal pemerintahan, ia menduduki posisi dalam jaringannya. Masalah yang menimbulkan kontroversi di dalam masyarakat mengandung berbagai pendapat yang berbeda bahkan bertentangan ten-tang suatu isu. Perbedaan pendapat ini timbul karena adanya tiga hal, yaitu pertama, setuju atau tidak setuju terhadap fakta; kedua, perbedaan perkiraan tetapi, boleh tidak berbeda dalam pandangan; dan ketiga, mempunyai sumber yang berbeda.

0 komentar: