Selasa, 21 Juni 2011

Pengaruh Media Televisi

Pengaruh Televisi Terhadap Masyarakat 

Saat televisi diciptakan untuk pertama kalinya, penciptanya tidak pernah membayangkan bahwa alat yang dirancangnya akan menjadi alat yang luar biasa pengaruhnya bagi peradaban dunia. Tulisan ini menuturkan sejarah terciptanya televisi, perkembangannya di dunia bahkan di Indonesia serta peran televisi pada kondisi dan situasi budaya dan politik akhir-akhir ini.

Pernah ditulis dalam rubrik opini koran kompas tentang budaya membaca, dimana dalam rubric tersebut penulis mengatakan di Amerika sekarang ini terjadi pergeseran dari budaya membaya menjadi budaya lisan. Orang lebih suka menonton acara TV dari pada membaca. Ini belum termasuk pengaruh dari internet. Tetapi setidaknya di Amerika pernah mengalami masa budaya membaca, dimana minat untuk membaca masyarakat disana sangat tinggi. Bagaimana dengan Indonesia?

Siaran televisi pertama di Indonesia ditayangkan pada tanggal 17 Agustus 1962 bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke XVII. Siaran tersebut berlangsung mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.02 waktu Indonesia bagian barat untuk meliput upacara peringatan hari Proklamasi di Istana Negara. Televisi Republik Indonesia (TVRI) baru melaksanakan siaran secara kontinyu 24 Agustus 1962. Liputan perdananya adalah upacara pembukaan Asian Games ke IV di Stadion Utama Senayan Jakarta. Saat ini siaran televisi di Indonesia telah dapat menjangkau di duapuluh tujuh propinsi di seluruh Indonesia berkat pemanfaatan satelit Palapa (yang mampu pula menjangkau wilayah Asean).

Sebagai contoh ketangguhan media televisi adalah ketika Perancis menjadi tuan rumah dalam ajang pertarungan sepakbola antar negara. Berkat televisi pembicaraan tentang sepakbola menjadi semakin meriah. Media massa yang paling komunikatif dalam menayangkan pesta dunia ini hanyalah televisi. Selain itu masih banyak lagi kejadian di dunia yang terasa lebih nyata dengan adanya televisi.

Orde Baru pada masa-masa Pemilu yang selalu penuh rekayasa itu, juga selalu memanfaatkan televisi dalam trik-trik politiknya. Melalui media televisi, Orde Baru membangun citra-citra yang mampu mengantar rakyat menilai negatif saingan-saingan politiknya. Televisi mampu membangun opini masyarakat lewat tayangannya berkali-kali. Sebagai contoh, Orde Baru selalu menayangkan kampanye-kampanye partai politik saat itu dalam latar belakang atau kondisi-kondisi rusuh. Kampanye Partai-partai politik saat itu selalu disertai suasana-suasana kekerasan, kerusuhan dan kebrutalan-kebrutalan sehingga mampu membangun opini publik bahwa partai-partai tersebut identik dengan kerusuhan. Citra negatif tersebut terbangun selama masa-masa kampanye akibat gencarnya televisi menyiarkan pemberitaan yang tidak berimbang dan sepihak.

Tanpa disadari oleh pemirsa, bahwa telah terjadi suatu indoktrinasi oleh media televisi pada dirinya melalui iklan, program-program dan informasi beritanya. Manusia telah dikondisikan untuk haus akan tayangan-tayangan televisi, masyarakat saat ini telah menjadi suatu masyarakat tayangan. Ritme-ritme kehidupannya telah diatur oleh program-program tayangan dengan semua yang menyertainya. Harus disadari bahwa pola-pola ini membuktikan keberhasilan suatu wacana kapitalisme. Program-program tayangan pertandingan sepakbola yang ditayangkan pada dinihari telah merubah ritme hidup manusia pemirsanya, yang rela untuk bangun pada dinihari untuk menyaksikan tayangan bola yang berada di Italia atau Inggris. Pada saat yang demikian, para kapitalis telah meramu pola-pola bagaimana menjaring konsumen bagi pemasaran produk-produknya, lewat kostum yang dipakai para pemain bola, sepatu bola yang digunakan para idola kaum muda. Iklan-iklan yang bertebaran di pinggir lapangan hijau, tayangan iklan yang mensponsori acara tersebut sampai kuis-kuis yang ditawarkan, mengantar kaum kapitalis menjaring mangsanya.

Arthur Kroker dan David Cook mengatakan bahwa sifat totalitas televisi telah menjadikannya sebagai satu bentuk kekuasaan dalam suatu komunitas (dalam Piliang 1998). Citra-citra yang ditawarkan televisi telah membentuk ketidak-sadaran massal, bahwa telah terjadi pembentukan diri melalui televisi. Penonton dibentuk berdasarkan relasinya dengan obyek-obyek dan reaksinya terhadap obyek tersebut. Dikatakan oleh Piliang bahwa citraancitraan yang mengalir melalui iklan untuk meng-indoktrinasi massa. Didalam bahasa pertelevisi-an “Berlian” adalah abadi, sabun Lux mencitrakan kecantikan, wes-ewes-ewes bablas angine adalah kesehatan dan minum bir adalah persahabatan.

Sumber:
Kuswandi, Wawan, Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi, Jakarta: Rineka Cipta, 1996
pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/.../41033-6-267397363570.doc
Makalah Jaringan Komunikasi, Unisba 2011

0 komentar:

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !